Selasa, 21 Agustus 2012

Sejarah Tari Janger

janger_1
Kapankah tari Janger diciptakan? Siapakah penciptanya? Pertanyaan ini bisa diteruskan untuk seni tari lainnya, dan kita tak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Janger barangkali lebih muda dibandingkan Cak. Tetapi, saya tak tahu persis, belum pernah menemukan buku tentang sejarah Janger. Kalau drama tari Gambuh, sudah terbit buku dengan editor Maria Cristina Formaggia. Ini buku tentang Gambuh yang paling lengkap. Gambuh diperkirakan sudah ada pada abad XIV dan terus mengalami evolusi sampai abad XVII. Bentuk tarinya kemudian mengalami ”balinisasi” di abad XIX sampai abad XX. Lalu, ini yang menyedihkan, Gambuh nyaris mati di abad XXI ini.
Bagaimana dengan Janger? Janger Kedaton berusia 100 tahun. Itu berarti Janger sudah berusia seabad lebih, dan kita tidak tahu apakah usia sejatinya dua abad atau tiga abad. Belum ada penelitian ke arah itu, termasuk bagaimana evolusi Janger dari abad ke abad. Bahwa di Banjar Kedaton telah ada Janger sejak tahun 1906 dan terus dipelihara dari waktu ke waktu tentu merupakan prestasi tersendiri. Lestarinya kesenian di sebuah desa di Bali umumnya dikaitkan dengan hal-hal mistis. Janger Kedaton pun demikian. Masyarakat boleh beralih profesi, tetapi kesenian tetap dipertahankan karena dipayungi oleh hal-hal mistis dan sakral. Perjalanan Janger ini menjadi sisi menarik yang layak didokumentasikan.
Seni tari Janger mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Ini disebabkan pola dasar tari Janger adalah adanya dua kelompok yang bertembang saling bersautan. Di daerah-daerah lain Nusantara, jenis kesenian yang bertembang bersautan juga ada, baik berupa kidung tradisional maupun berpantun. Dan, kesenian seperti itu mengalami perubahan yang sama dengan Janger, yakni masuknya unsur-unsur aktual tentang situasi dan kondisi masyarakat pada zamannya.
Janger yang ”tradisional”, meski belum ada penelitian tentang itu, bercerita tentang kelompok muda-mudi yang lagi dimabuk asmara, yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan tentang kisah-kisah asmara, dari cara berkenalan, menanyakan identitas, dan menjurus ke rayuan. Semuanya dilakukan dengan riang gembira. Mungkin keriangan itu ciri khas Janger yang tidak mengalami perubahan.. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX, merupakan perkembangan dari tari sanghyang. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria, sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita.
Lakon yang dibawakan dalam Janger antara lain: Arjuna Wiwaha, Sunda Upasunda dan lain sebagainya. Tari Janger dapat dijumpai hampir di seluruh daerah Bali, masing-masing daerah mempunyai variasi tersendiri sesuai dengan selera masyarakat setempat.
* Di daerah Tabanan tari Janger biasa dilengkapi dengan penampilan peran Dag (seorang berpakaian seperti jenderal tentara Belanda dengan gerak-gerak improvisasi yang kadang-kadang memberi komando kepada penari Janger maupun Kecak).
* Di desa Metra (Bangli) terdapat tari Janger yang pada akhir pertunjukannya para penarinya selalu kerauhan
* Di desa Sibang (Badung) terdapat tari Janger yang diiringi dengan Gamelan Gong Kebyar yang oleh masyarakat setempat menamakannya Janger Gong.
Pada dasawarsa 1960-an, terutama menjelang tahun 1965, Janger di Bali diracuni masalah politik yang mencerminkan adanya pertentangan di tengah-tengah masyarakat. Ada Janger PKI dan ada Janger PNI dan mereka saling sindir. Pakaian penari pun, terutama kelompok pria, mengalami perubahan sesuai dengan situasi saat itu. Janger kelompok pria memakai celana dan sering di tangannya ada pedang. Jadi, gerak tarinya adalah kombinasi dari gerakan silat. Mereka berteriak dengan cara koor: ”Marhaen menang, Pancasila jaya”, itu bagi Janger PNI. Sedangkan janger PKI bernyanyi koor: ”Sama rata, sama rasa, sosialisme ala Indonesia.” Banyak lagi jargon-jargon khas zaman itu, yang saat ini menjadi sesuatu yang menggelikan untuk dikenang.
”Janger politik” itu tidak lagi bercerita tentang kisah asmara, tetapi ”kisah keluarga”, melalui tembang-tembangnya. Misalnya, Janger kelompok pria bertembang tentang kepergiannya memperjuangkan nasib rakyat, kalau dia meninggal, jangan cari suami yang berlainan partai. Kelompok Janger wanita menjawab dengan tegas, bahwa ia akan melanjutkan perjuangan.
Tetapi tidak semua sekaa Janger terlibat dalam ”politik praktis”. Ada yang netral, namun cara berpakaian dan isi tembang mengikuti perkembangan saat itu. Misalnya, Janger kelompok pria bernyanyi tentang kepergiannya menjadi sukarelawan. Koor yang dikumandangkan selalu diakhiri dengan jargon: ”Ganyang Malaysia”. Janger kelompok wanita bertembang tentang cinta kasih sambil menyiapkan bekal untuk ”mengganyang Malaysia”.
Setelah meletusnya G-30-S/PKI, lama kesenian Janger menghilang. Masyarakat Bali trauma dengan Janger, seolah-olah kesenian itu adalah simbol dari ”sisi gelap” Bali, betapa mudahnya orang Bali diadu-domba dan saling membunuh sesamanya. Janger baru muncul kembali di masa Orde Baru. Dan lagi-lagi Janger menjadi corong politik, kali ini ”politik pembangunan”. Maka ada Janger tentang Keluarga Berencana. Meski kisah-kisah asmara masih ada, tetapi itu hanya sebagai pembuka sebelum masuk ke kisah intinya yaitu propaganda pemerintah tentang keberhasilannya. Orang tentu masih ingat, Gubernur Bali Ida Bagus Oka hampir setiap HUT Pemda Bali mengajak stafnya menari Janger.
Sekaa Janger yang kini masih aktif antara lain Janger Kedaton (Denpasar) dan Janger Singapadu (Gianyar).
Sejarah Janger semestinya diteliti lebih jauh. Kalaupun tak bisa menyeluruh, dimulai dari sejarah Janger lokal. Bagaimana perjalanan Janger Kedaton yang berusia 100 tahun itu, bagaimana perjalanan Janger Peliatan yang termasyur itu. Lagu bagaimana dengan kisah-kisah ”janger politik” yang banyak muncul di Jembrana dan Tabanan di masa lalu. Apa kita harus menunggu penulis asing, seperti halnya tentang Gambuh, untuk membukukan riwayat Janger?

*Dari berbagai sumber

Bali Heritage Culture

Deskripsi
Pulau Bali telah lama dicirikan di dunia sebagai “surga” terakhir di bumi, masyarakat tradisional terisolasi dari dunia modern dan perubahan-perubahan, yang penduduknya memiliki bakat seni yang luar biasa dan menguduskan cukup banyak waktu dan materi untuk upacara-upacara adat dan dewa-dewi – nya. Oleh karena itu, hubungan antara aspek berwujud dan tidak berwujud merupakan aspek utama dari warisan dan budaya Bali. Warisan budaya pulau berjalan di luar struktur fisik dan lanskap. Lebih daripada di tempat lain di semenanjung Indonesia, terdapat hubungan yang rumit antara lingkungan binaan, pengaturan alam dan kehidupan sosial dan keagamaan.
Bali adalah bagian dari kepulauan Indonesia, terletak di antara delapan dan sembilan derajat selatan khatulistiwa. Mencakup area seluas 563,300 hektar termasuk tiga pulau lepas pantai.
Kombinasi antara iklim tropis, hujan dan tanah vulkanis subur membuat Bali tempat yang ideal untuk budidaya tanaman; termasuk tumbuhnya padi, kelapa, cengkeh dan kopi. Kegiatan pertanian ini mempunyai pengaruh yang besar pada lanskap Bali, terutama dalam penciptaan beras teras. Selama seribu tahun terakhir, masyarakat Bali melakukan modifikasi yang menyesuaikan pulau mereka, terasering lereng bukit dan menggali kanal untuk mengairi lahan, memungkinkan mereka untuk menanam padi.

Sungai mengaliri seluruh Bali dan aliran air terus menerus mendukung kegiatan pertanian. Sistem irigasi yang rumit telah dibuat untuk mengambil manfaat maksimal dari air. Dalam wujud rasa syukur terhadap air, yang memungkinkan kegiatan pertanian, masyarakat Bali membuat persembahan di mata air. Sistem irigasi ini juga memungkinkan koordinasi yang dikenal sebagai koperasi subak. Organisasi tersebut adalah sebuah organisasi demokratis di mana para petani ladang yang diberi makan oleh sumber air yang sama, bertemu secara teratur untuk mengkoordinasikan penanaman, untuk mengontrol distribusi air irigasi dan untuk merencanakan pembangunan dan pemeliharaan kanal dan bendungan, serta mengatur upacara persembahan dan festival pura subak.
Nasi adalah makanan utama di Bali dan orang Bali percaya bahwa beras adalah karunia para dewa. Buah pertama diberikan kembali kepada dewa-dewa dan upacara-upacara rumit menyertai setiap tahap pertumbuhan tanaman padi.
Sama dengan unsur-unsur alam ini, agama Hindu mendominasi kehidupan sehari-hari di Bali. Kosmologi Hindu ada pada tiga tingkat: dewa-dewa berada di atas puncak gunung, setan/ kekuatan jahat berada di bawah bumi dan laut, dan dunia manusia di antara keduanya. Pura adalah tempat pertemuan antara manusia dan dewa. Banyak ritual berusaha untuk menjaga harmoni, yang juga ada di mikro kosmos – pegunungan, laut dan tanah – dan yang membayangkan di mana-mana dalam tata letak desa-desa, rumah, dan pura-pura dan bahkan dalam tubuh manusia. Filosofi ini alam semesta-Tri Hita Karana mengatur lansekap candi dan lingkungan sekitarnya.
Desa di Bali adalah jaringan ketat sosial, agama dan lembaga-lembaga ekonomi, di mana setiap orang di pulau adalah bagian. Banjar, atau asosiasi desa adalah bentuk yang cerdik pemerintah daerah yang unik di Bali. Asosiasi ini mengatur kehidupan sehari-hari dengan sangat rinci sesuai dengan hukum setempat.
Tiga cluster diusulkan untuk situs Warisan Dunia prasasti dengan kemungkinan perpanjangan dari kompleks Pura Besakih masuk sebagai tambahan, yang sedang pada proses sosialisasi:
- Persawahan Jatiluwih, desa-desa tradisional di wilayah Tabanan bersama-sama dengan sawah sekitarnya;
sawah terasiring Jatiluwih
- Taman Ayun, keloompok ‘kompleks candi utama;
alt 
Taman Ayun
- Sebuah kelompok delapan (8) kuil sepanjang lembah sungai Pakerisan
alt 
Candi Batu
- Pura Besakih untuk kemungkinan pertambahan.
altPura Besakih
Keseluruhan situs tersebut mewakili Budaya Bali dalam hubungannya sebagai pengenal Bali terhadap dunia internasional.
Sawah yang berteras Jatiluwih menjelaskan ciri khas sosial dan sistem rekayasa Subak, yang merupakan perwujudan filsafat Bali Tri Hita Karana.
Pura Taman Ayun adalah perwakilan senyawa penting tradisi yang berkelanjutan dalam agama, konstruksi Pura, kegiatan seremonial dan kohesi sosial.
Kompleks candi, situs arkeologi dan lansekap di sepanjang Sungai Pakerisan, mengungkapkan perkembangan sejarah arsitektur agama dan konsep yang jelas kesaksian dari kosmologi Hindu-Bali konsep Tri Hita Karana, Tuhan, manusia dan lingkungan alam saling terkait satu sama lain.
Pembenaran untuk Nilai Universal yang Luar Biasa
Pernyataan keaslian dan / atau integritas
Kebudayaan Provinsi Bali merupakan manifestasi luar biasa unik doktrin kosmologis Bali. Ini adalah cerminan nyata Bali, ide-ide dan kepercayaan yang berakar pada dasarnya dalam konsep Tri Hita Karana, yaitu kesadaran akan kebutuhan untuk selalu menjaga hubungan yang harmonis antara Tuhan, Manusia, dan Alam dalam kehidupan sehari-hari. Seperti konsep tertentu sebenarnya adalah bukti kejeniusan Bali yang kreatif dan tradisi budaya yang unik sebagai hasil dari interaksi manusia yang panjang, khususnya antara Bali dan India. Semua situs-situs kelompok Lansekap Kebudayaan juga secara langsung menunjukkan kemampuan Bali untuk membuat doktrin-doktrin kosmologis mereka yang unik dan dipraktekkan nyata dalam kehidupan sehari-hari mereka melalui perencanaan tata ruang dan pemanfaatan lahan (lansekap budaya), penataan pemukiman, arsitektur, upacara-upacara dan ritual, seni, dan organisasi sosial. Memang pelaksanaan konsep telah terbukti menghasilkan lanskap budaya yang indah. Semua prestasi pantas dihargai sebagai nilai universal yang luar biasa.
Perbandingan dengan sifat serupa lainnya
Lanskap budaya Provinsi Bali adalah entitas yang unik yang terlaksana dari filsafat Bali yang unik, Tri Hita Karana. Pada dasarnya, filosofi ini menegaskan bahwa kebahagiaan, kemakmuran, dan kedamaian hanya dapat tercapai jika Tuhan, manusia, dan alam hidup dalam harmoni.
Mengatur filosofi ini merupakan contoh luar biasa hubungan harmonis antara supranatural (Tuhan), manusia,   dan alam. Pura-pura yang menjadi ciri khas pemandangan dan upacara yang dilakukan di sana mewujudkan keinginan Bali untuk mencari hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Sosio-organisasi keagamaan yang bertanggung jawab untuk menjaga lansekap, termasuk organisasi irigasi Subak, adalah kendaraan untuk menjaga hubungan yang baik di antara umat manusia. Sementara itu, bagaimana membangun Bali, seperti memilih lokasi kuil mereka dan desain, membangun fasilitas irigasi, dan membuat teras-teras sawah mereka, menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan mereka. Susunan harmonik lanskap alam dan lingkungan binaan cerdik menggambarkan adaptasi ke sebuah pulau kecil dengan gunung berapi yang masih aktif dan topografi lingkungan.
Sebuah penelitian telah dilakukan untuk mencari kemungkinan pembanding Pandangan Budaya Provinsi Bali. Dalam kepulauan Indonesia, hampir tidak ditemukan sebuah lanskap budaya yang sebanding. Meskipun beberapa petak sawah ada di Sumatera dan Sulawesi, tidak ada yang rumit dibandingkan dengan organisasi irigasi Subak di Bali. Sawah teras Sumatra dan Sulawesi tidak memiliki kuil khusus atau ritual yang mencirikan Pandangan Kebudayaan Provinsi Bali. Selanjutnya, pembentukan teras sawah Sumatra dan Sulawesi adalah pertimbangan yang lebih teknis, sementara lanskap di Bali diciptakan sebagai manifestasi dari Tri Hita Karena filsafat.
Di luar Indonesia, sawah Filipina Cordillera di Luzon, Filipina, dapat dibandingkan dengan sawah teras dari Subak Jatiluwih di Tabanan. Yang pertama didirikan sekitar 2000 tahun yang lalu dan diberi makan oleh sistem irigasi kuno. Air mengalir dari hutan hujan di atas Gunung Ifugao. Pada tahun 1995, persawahan Banaue dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia. Seperti di Jatiluwih, sistem irigasi yang Banaue didukung oleh organisasi tradisional, teknik pertanian, ritual dan sistem kepercayaan. Namun, ritual dan sistem kepercayaan serta organisasi di balik sistem tersebut adalah sangat berbeda. Ifugao ritual dan sistem kepercayaan Hindu tidak memiliki persamaan sama sekali, sementara ritual di Bali dan sistem kepercayaan telah sangat dipengaruhi oleh Hinduisme. Hal ini dapat dilihat dalam terjadinya candi kecil di teras beras Jatiluwih yang didedikasikan untuk Sri, dewi padi. Selanjutnya, struktur Jatiluwih sistem irigasi (subak) memiliki akar dalam Tri Hita Karana, esensi dari kosmologi Bali. Oleh karena itu, sawah Jatiluwih merupakan fenomena unik yang sangat berbeda dengan yang lain dibandingkan Ifugao atau sistem teras padi di dunia.
Mengenai kuil batu di sepanjang Sungai Pakerisan dan Petanu, Bernet-Kempers (1977) menyarankan karena kemiripannya dengan gua Ajanta dan Ellora candi ditemukan di dekat Aurangabad, Deccan (India). Namun, harus ditekankan di sini bahwa filosofi di balik kuil batu di India dan orang-orang Bali adalah benar-benar berbeda. Tidak seperti di India, sebuah kuil Bali ini mungkin tempat ritual megalitik dan dipersembahkan kepada ilahi tertentu raja atau tokoh bukan dewa tertentu (Ramseyer, 2002). Terlebih lagi, semua kuil termasuk dalam Pemandangan Kebudayaan Provinsi Bali selalu berhubungan dengan air yang dianggap sebagai zat yang paling penting sebagai sarana untuk menjaga hubungan yang harmonis antara Tuhan, manusia, dan lingkungan (Tri Hita Karana). Filsafat tersebut tidak ada di candi batu India.
Sumber : http://www.baliculturegov.com

Taman Budaya Bali "Art Centre"


Taman Budaya Bali (Bali Art Centre) wilayah dibagi menjadi 4 kompleks, yaitu:
- Kompleks Taman Suci (Kompleks Taman Suci) = Pura Pepaosan Beji, Bale Selonding, Bale
- Kompleks Tenang = Perpustakaan Widya Kusuma
- Kompleks setengah = Mahudara Exhibition Building, Bangunan Craft, Sculpture Studio, Rumah Seni dan Wantilan
- Kompleks ramai = Tahap Open Stage Ardha Candra dan tertutup Ksirarnawa (keduanya berlokasi di Sungai Selatan)
Taman Budaya atau Art Center arsitektur adalah sebuah komplek bangunan dengan tanda utama dari sebuah panggung terbuka besar. gelanggang di ruang terbuka ini dapat menampung sampai dengan 6,000 penonton untuk pertunjukan kolosal baik untuk modern dan juga tradisional. Dirancang oleh arsitek tradisional Bali Ida Bagus Pugur, dibuka untuk umum pada tahun 1973. Selain panggung terbuka tradisional, ada banyak bangunan dan aula dibangun dengan arsitektur Bali dengan hiasan terbaik. Bangunan ini terdiri dari dua jenis, satu jenis untuk pameran permanen dan orang lain adalah untuk pameran musiman, terutama selama Pesta Kesenian Bali di pertengahan bulan Juni-Juli setiap tahun. Dua bangunan dengan arsitektur Bali yang terbaik untuk pameran permanen di mana orang bisa melihat berbagai kesenian Bali dari fasilitas tari atau angka, ukiran, seni pakaian, lukisan, dan lain-lain. Selama Pesta Kesenian Bali seluruh bangunan diajukan dengan pameran dari semua jenis produk, seni tidak hanya produk tetapi juga sejarah, buku, kebutuhan sehari-hari, produk kreatif, pemerintah departemen dengan tugas dan lain-lain.
Situasi yang sibuk nyata selama satu bulan pesta. Kegiatan di panggung terbuka bahkan lebih hidup, seperti yang dijadwalkan kehidupan dewasa ini menunjukkan wakil-wakil mereka dari tarian tradisional atau drama atau pantomim dari Bali, provinsi lain di Indonesia dan peserta dari mancanegara. Peserta asing yg ikut seperti India, Thailand, Amerika Serikat, Perancis, Australia, Jepang, dan Korea. negara baru seperti Vietnam dan Kamboja juga aktif berpartisipasi. Saat moment menarik adalah pada saat pembukaan festival seni, yang selalu dimulai dengan pawai dari alun-alun Kota Lapangan Puputan Badung (depan Jaya Sabha) dengan prosesi peed, tarian, musik, dekorasi, seni marshal dan lain-lain, di mana diundang pejabat tinggi dan pejabat asing menunggu di panggung sementara, Bali paviliun tradisional dengan atap jerami.
Sepanjang jalan prosesi yang terdiri dari berbagai seniman menunjukkan tindakan mereka atau tari menyusul oleh stasiun TV atau wartawan. Prosesi biasanya dimulai pukul 6 sore dan selesai jam 12 siang menandai awal dari festival seni sebulan panjang. Kehidupan situasi dapat dilihat baik di pameran dan di panggung terbuka mulai dari malam upacara pembukaan dengan prosesi itu. Setiap sore atau malam telah dijadwalkan pergantian setiap perwakilan untuk mempresentasikan acara mereka yang biasanya telah dikonfirmasi lama sebelum acara tersebut. Pada siang hari sisanya panggung terbuka juga tidak selalu, tetapi beberapa kali sekolah atau universitas akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti kehidupan drum band, drama, atau kegiatan seni lain yang mereka bisa hadir. Selain menunjukkan normal juga ada semacam kompetisi di antara musik tradisional Bali yang sama seperti Gong, dan pemenang akan diberikan apresiasi.

Barong Landung dan Asal Mulanya

Sejarah dari Barong Landung merupakan perwujudan dari raja Bali yaitu Raja Jaya Pangus yang memperistrikan seorang Putri Cina bernama Kang Cing Wei. Raja Jaya Pangus diwujudkan dalam Barong Landung ditokohkan dengan boneka besar hitam dan giginya ronggoh, sedangkan putri Kang Cing Wei ditokohkan dengan boneka cantik tinggi langsing bermata sipit dan selalu tersenyum mirip dengan roman muka seorang Cina. Raja Jaya Pangus yang bertahta di Pejeng yang tidak diketahui di Bali pada jaman paparaton dari dinasti Warmadewa, didampingi oleh seorang Bhagawan yang sakti dan bijaksana bernama Empu Siwagana. Perkawinan Raja Jaya Pangus dengan Putri Cina sudah terjadi tetapi Sang Hyang Bhagawanta tidak merestui perkawinan itu. Sri Jaya Pangus dituduh telah melanggar adat yang sangat ditabukan saat itu, yakni telah dengan berani mengawini putri Cina yang elok bernama Kang Cing Wei itu. Empu Siwagana lalu menghukum Raja Jaya Pangus dengan membuat hujan lebat dan membuat kerajaan menjadi banjir dan tenggelam. Walaupun perkawinanya tidak direstui oleh Dewa, ia tetap mencintai istrinya seorang Cina itu. Raja Jaya Pangus akhirnya pergi dan membuat kerajaan baru yang diberi nama kerajaan Balingkang. Nama ini merupakan perpaduan dari kata Bali = bali, dan Kang = Cina. Raja kemudian dijuluki oleh rakyatnya sebagai Dalem Balingkang. Sayang, karena lama mereka tidak mempunyai keturunan, raja pun pergi ke Gunung Batur, memohon kepada dewa di sana agar dianugerahi anak. Namun celakanya, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Dewi Danu yang jelita. Ia pun terpikat, kawin, dan melahirkan seorang anak lelaki yang sangat kesohor hingga kini yaitu Maya Danawa.
Sementara itu, Kang Cing Wei yang lama menunggu suaminya pulang, mulai gelisah, Ia bertekad menyusul ke Gunung Batur. Namun di sana, di tengah hutan belantara yang menawan, iapun terkejut manakala menemukan suaminya telah menjadi milik Dewi Danu. Ketiganya lalu terlibat pertengkaran sengit.
Dewi Danu dengan marah berapi-api menuduh sang raja telah membohongi dirinya dengan mengaku sebelumnya sebagai perjaka. Dengan kekuatan gaibnya, Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei dilenyapkan dari muka bumi ini. Oleh rakyat yang mencintainya, kedua suami istri  “Dalem Balingkang dan Kang Cing Wei”  itu lalu dibuatkan patung yang dikenal dengan nama Stasura dan Bhati Mandul. Patung inilah kemudian berkembang menjadi Barong Landung.
Mengenai sejarah tari Barong Landung versi lainnya, pada jaman dahulu di suatu desa terjadi musibah, penduduk banyak yang jatuh sakit. Sebagai kepercayaan turun temurun bahwa yang menyebabkan banyak jatuh sakit adalah “leak” pengikut dari ratu jahat berbentuk raksasa besar dari Nusa Penida bernama Ratu Gde Mecaling. Untuk menanggulangi wabah tersebut timbul akal dari seorang pendeta untuk membuat boneka yang menyerupai Ratu Gde Mecaling sebagai pengusir leak tersebut. Apabila Barong Landung ini pergi ngelawang khususnya pada saat ada wabah penyakit atau ada orang berkaul karena telah sembuh dari penyakitnya, karena gangguan Ratu Gde Mecaling dari Nusa Penida dapat diusir. Melihat tari Barong Landung sebagai tarian boneka raksasa yang besar, diberi nama Djero Gde dan Djero Luh. Djero Gde digambarkan sebagai manusia raksasa yang sangat seram dan tertawa terbahak-bahak sedangkan Djero Luh adalah sesosok wanita yang besar bermata sipit tetapi sering lucu. Berdasarkan kepercayaan pada sejarah tersebut, keberadaan Barong Landung tetap hidup dan dipentaskan sampai saat ini. Barong Landung juga dikeramatkan di beberapa pura di Bali salah satunya di Desa Blahbatuh Gianyar karena diyakini mempunyai kemampuan gaib untuk mengusir malapetaka dari segala musibah penyakit.
Di beberapa tempat di Bali ada juga Barong Landung yang lebih lengkap dari pada yang hanya sepasang saja, tetapi ada yang diberi peran seperti Mantri, Galuh, Limbur dan sebagainya. Mereka dipakai sebagai anggota dalam pementasan yang membawakan lakon Arja (terutama didaerah Badung dan Denpasar) dan diiringi dengan gamelan Batel.

*Dari berbagai sumber

Monumen Bajra Sandhi

Monumen Bajra Sandhi  merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan serta merupakan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter. Lokasi monumen ini terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Propinsi Bali Niti Mandala Renon persisnya di Lapangan Puputan Renon.
Monumen ini dikenal dengan nama “Bajra Sandhi” karena bentuknya menyerupai bajra atau genta yang digunakan oleh para Pendeta Hindu dalam mengucapkan Weda (mantra) pada saat upacara keagamaan. Monumen ini dibangun pada tahun 1987, diresmikan oleh Presiden Megawati Sukarno Putri pada tanggal 14 Juni 2003. Tujuan pembangunan monumen ini adalah unutuk mengabadikan jiwa dan semangat perjuangan rakyat Bali, sekaligus menggali, memelihara, mengembangkan serta melestarikan budaya Bali untuk diwariskan kepada generasi penerus sebagai modal melangkah maju menapak dunia yang semakin sarat dengan tantangan dan hambatan.
Monumen ini berisikan 33 diorama yang menggambarkan perjalanan sejarah dari masa Prasejarah (300.000 S.M) yang manusianya masih berpindah-pindah dan sangat tergantung dari alam, sampai pada masa mengisi kemerdekaan (1950-1975) dimana Bali membangun di segala bidang, yaitu: politik, ekonomi, dan social budaya. Mengetahui dan memahami perjalanan sejarah, jiwa dan semangat perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa ini dapat diharapkan memperkokoh jati diri dan budaya, lebih-lebih pariwisata di Bali di kembangkan sebagai pariwisata Budaya, agar tidak tergerus oleh harus globalisasi, mengingat derasnya pengaruh luar akibat kemajuan teknologi di bidang informasi, transportasi dan turisme.
Wujud fisik bangunan kental dengan makna falsafah agama Hindu, yakin Lingga-Yoni : monumennya sendiri sebagai lambang lingga sedangkan dasar bangunan sebagai Yoni. Di samping Lingga-Yoni, tertera juga cerita Pemutaran Mandhara Giri di Ksirarnawa yang diambil dari petikan Adi Parwa.
Pada bangunan monumen terlihat:
  • Guci Amertha, disimbulkan dengan kumba (semacam periuk) yang terlihat di bagian atas monumen.
  • Ekor Naga Basuki terwujud dekat Swamba dan kepalanya pada Kori Agung.
  • Badan Bedawang Akupa diwujudkan pada landasan monumen, kepalanya pada Kori Agung.
  • Gunung Mendara Giri diwujudkan dengan monumen yang menjulang tinggi.
  • Kolam mengelilingi monumen, diibaratkan sebagai Ksirarnawa (lautan susu).
Keseluruhan data daerah monumen berbentuk segi empat bujur sangkar dengan penerapan konsepsi Tri Mandala :
  1. Sebagai Utama Mandala adalah pelataran/gedung yang paling ditengah
  2. Sebagai Madya Mandala adalah pelataran yang mengitari Utama Mandala
  3. Sebagai Nista Mandala adalah pelataran yang paling luar yang mengitari Madya Mandala
Bangunan gedung monumen pada Utama Mandala tersusun menjadi 3 lantai :
  • Utamaning Utama Mandala adalah lantai 3 yang berposisi paling atas berfungsi sebagai ruang ketenangan, tempat hening-hening menikmati suasana kejauhan disekeliling monumen. Para pengunjung bisa melihat panorama Denpasar dari tempat ini. Pada saat cuaca cerah sehingga pemandangan Denpasar terlihat jelas. Untuk mencapai tempat ini harus melewati tangga melingkat yang lumayan tinggi.
  • Madyaning Utama Mandala adalah lantai 2 berfungsi sebagai tempat diorama yang berjumlah 33 unit. Lantai 2 (dua) ini sebagai tempat pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Dioramanya mirip dengan yang ada di Monas, Jakarta. Tapi yang di sini hanya menampilkan perjuangan rakyat Bali. Mulai zaman kerajaan, masuknya Hindu, Majapahit, penjajahan, perang kemerdekaan, hingga saat ini.
Di bagian luar sekeliling ruangan ini terdapat serambi atau teras terbuka untuk menikmati suasana sekeliling.
  • Nistaning Utama Mandala adalah lantai dasar Gedung Monumen, yang terdapat ruang informasi, ruang keperpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Ditengah-tengah ruangan terdapat telaga yang diberi nama sebagai Puser Tasik, delapan tiang agung dan juga tangga naik berbentuk tapak dara.
*Dari berbagai sumber
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

INFO PENTING

Kami sampaikan kepada semua pengunjung TNBA Blog, bahwa Kami disini bukanlah Pencipta Artikel ataupun Uploder, kami hanyalah Finder Artikel dan Juga Link - link terkait yang kami Posting. Admin adalah BLOGER Baru yang berasal dari PULAU DEWATA dengan Tujuan mulia untuk membantu Masyarakat untuk menemukan Artikel-artikel yang diinginkan dengan Mudah tanpa mengambil keuntungan dari semua Postingannya.

Salah satu Sumber kami :
1. www.parisada.org
2. singaraja.wordpress.com
3. piswayang.blogspot.com
4. www.stitidharma.org

Trima kasih atas perhatiannya

Admin

Bisnis Online

BALI

=====BALI=====

Bali adalah Pulau yang sering disebut dengan Pulau Seribu Pura, ini semua karena memang di Pulau ini memiliki banyak sekali Bangunan Pura Yang Megah di Setiap Lokasi di Setiap Desanya. Hal ini tidak terlepas dari Mayoritas penduduknya menganut Agama Hindu,,Hhhhmmmmmm kalau saya Bahas Bali disini akan sangat panjang, Kalau Agan2 Mau tau Bali seperti apa,,.??? Baca Postingan dari "TIANG NAK BALI AGA", temukan Informasi tentang Bali disini.

Suksma

Kategori

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Kunjungan

Followers

 

Visitors

free counters

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger