Minggu, 09 September 2012

Pemahaman Tentang Tuhan dan Dewa

1. Dalam kisah Ramayana dan Mahabrata atau kisah-kisah lainnya, sering tersirat bahwa di antara Dewa seperti ada hubungan yang terpisah… seperti pada bagian Dewa Indra berusaha membantu Arjuna dengan meminta pusaka yang dimiliki Karna sejak lahir, di mana Karna merupakan keturunan dari Dewa Surya…
Seolah-olah dalam cerita ini Dewa-Dewa tersebut memang berbeda, sedangkan keyakinan dalam agama Hindu bahwa Tuhan hanya satu tetapi disebut dengan banyak nama.
Makna apa sebenarnya yang ada dalam hal ini? Apakah Dewa itu memang berbeda? Dan apakah Dewa itu memang punya keturunan?
2. Dalam cerita Ramayana diceritakan bahwa Dewa Brahma menciptakan Kumba Karna yang sangat besar sehingga membuat panik para Dewa. Kenapa Kumba Karna yang merupakan ciptaan Dewa Brahma seolah-olah tidak dapat dikendalikan oleh-Nya?
3. Apakah cerita dalam Epos atau Purana memang terjadi seperti itu di waktu dulu. Atau cerita tersebut cuma dibuat untuk pemahaman tentang ajaran agama agar mudah ditangkap dan dipahami?
4. Saya juga ingin bertanya tentang keyakinan bahwa orang Bali/ Hindu tidak boleh makan daging sapi. Benarkah seperti itu? dan apa yang mendasarinya?
ANSWER:
1. Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sanghyang Widhi Wasa) memang satu/ tunggal. Untuk pemahaman kepada umat manusia, dijelaskan dalam Weda Parikrama bahwa Tuhan dalam pandangan agama Hindu mempunyai delapan jenis kekuatan/ kemampuan yang luar biasa yang disebut Asta Aiswarya:
  1. Anima (sangat halus)
  2. Laghima (sangat ringan)
  3. Mahima (sangat besar)
  4. Prapti (menjangkau semua tempat)
  5. Isitwa (melebihi segalanya)
  6. Prakamya (berkehendak mutlak)
  7. Wasitwa (sangat berkuasa)
  8. Kamawasayitwa (kodrati, tak dapat diubah).
2. Mahabharata dan Ramayana adalah Itihasa, yaitu sejarah yang berkaitan dengan Upaweda, di mana untuk mewujudkan salah satu atau beberapa Asta Aiswarya, Hyang Widhi telah menjadi Dewa (Div) atau beberapa Dewa-Dewi dengan “fungsi” berbeda bahkan ada yang berlawanan.
Di Bali dikenal ada Dewa Semara dan Dewi Ratih, atau Hyang Kumara dan Bhatara Kala sebagai wujud rua-bhineda (dua hal yang selalu berbeda).
3. Pengertian Putera tidaklah berarti anak yang lahir dari hubungan badan ayah dan ibu, tetapi suatu kekuatan atau wujud yang lahir dari Div-Asta-Aiswarya.
4. Sapi dalam catur weda disebutkan sebagai “Ibu” (yang menyusui) atau penyangga alam yang memberikan kehidupan kepada manusia, karenanya harus disucikan, dihormati, dan dilimpahi kasih sayang.
Misalnya disebutkan antara lain dalam: Rg Weda 10.176.1, Atharwa Weda 3.28.4, Yayur Weda 23.48 dan Sama Weda 176.
Dalam perkembangan sejarah Agama Hindu di Bali, sapi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Lembu yang berwarna putih, yang dapat diperah susunya, dan banteng yang berwarna merah, umumnya tidak diperah susunya.
Tafsir-tafsir tentang Sapi baik yang ada dalam Catur Weda maupun dalam Upanisad adalah sapi jenis Lembu.

Cerita-Cerita Tentang Amrta

1. AMRTA, Energi hidup yang keluar dari Giri Mandara
Pada bagian permulaan dari Astika Parwa (Adi Parwa), diceritakan para Dewa bersepakat untuk memutar Gunung Mandara, atas petunjuk Brahman. Oleh Dewa-Dewa, Gunung yang hebat itu diangkat dan diletakkan di atas punggung Kurmagni.
Selanjutnya para naga diperintahkan untuk mengikatnya erat-erat. Setelah berdiri stabil, Gunung itu lalu diputar dan keluarlah dari dalamnya berbagai jenis benda-benda berharga seperti berjenis-jenis batu permata dan logam-logam mulia.
Pada putaran-putaran berikutnya, keluar dari dalamnya kuda putih cemerlang yang dinamakan Ucchaisrava, kuda tersebut menjadi kendaraan dewata yang dapat melesat terbang seperti kilat.
Setelah kuda Ucchaisrava ini keluar, para Dewa menjadi letih dan hampir putus asa. Akan tetapi mereka berdoa dan memohon kekuatan (energi) kepada Brahman.
Energi diturunkan dan mereka mendapatkan cukup kekuatan untuk melakukan pemutaran selanjutnya. Putaran-putaran yang terakhir inilah yang memunculkan AMRTA dari dalam Gunung Mandara tersebut.
Seketika setelah AMRTA itu keluar, terjadilah pertempuran sengit di antara para Dewa dan Asura memperebutkan AMRTA itu.
Perebutan ini dimenangkan oleh para Dewa, dan AMRTA tersebut setelah semua Dewa sempat menikmatinya, sehingga perwujudannya menjadi kekal, lalu disimpan di pusat Alam Brahman dengan dijaga seketatnya.
2. RESAKUNDA, Tirtha anugerah Raja Naga
Masih di dalam Adi Parwa, diceritakan Bhima setelah menjadi pemuda remaja dan mendapat gemblengan ilmu-ilmu keperwiraan, menjadi sedemikian gagah perkasa sehingga sangat ditakuti oleh kaum Kaurawa, khususnya oleh Duryodhana.
Pada suatu kesempatan, ketika para Pandawa dan Kaurawa berlibur dan bermain-main di suatu taman pemandian, Bhima diracun oleh Duryodhana. Setelah pingsan dan diikat, ia dilemparkan ke dalam sungai tanpa diketahui oleh siapa pun juga.
Tubuh Bhima yang berat tenggelam dan seketika itu pula diserang oleh ular-ular sungai yang berbisa. Bisa ular sungai itu ternyata merupakan penawar bagi bisa (racun) tumbuh-tumbuhan yang telah dimakannya.
Bhima sadar dan dilihatnya seekor ular besar datang mendekati dirinya. Ia berontak, tali-tali pengikatnya putus dan langsung menyerang ular yang ternyata menyerang dirinya juga.
Terjadilah pergulatan seru di dalam air yang dalam itu. Ular melarikan diri, Bhima mengejar dan masuk ke dalam sebuah gua di bawah air. Di dalam gua itu Bhima berhadapan dengan Naga Vasuki yang ternyata masih bersaudara dengan Dewa Vayu.
Bhima dikenalnya dan disambut dengan ramah, bahkan ia diberi hadiah batu permata anti racun dan semacam AMRTA yang disebut RASAKUNDA.
Sejak saat itu Bhima tidak termakan oleh racun dan memiliki tenaga hebat setara dengan kekuatan sebanding dengan kekuatan seribu ekor gajah.
3.    KAMANDALU, Tirta anugrah Dewata
Masih sehubungan dengan Bhima, ksatria kedua Panca pandawa, diceritakan di dalam cerita DEWA RUCI yang terkenal itu.
Bhima yang kekuatannya tidak ada tandingan dan anti racun itu ternyata menurut Gurunya, Rsi Drona, masih memerlukan kekebalan kulit agar tubuhnya tidak bisa dilukai oleh senjata apapun juga, walaupun senjata itu dipasupati dengan mantra-mantra.
Oleh Guru Drona, Bhima diperintahkan untuk mencari Tirtha Dewata itu, tanpa diberitahukan di mana harus mencari dan bagaimana bisa dicari. Pertama-tama, Bhima menuju sebuah gunung keramat, yang tidak pernah dikunjungi orang karena dijaga oleh dua raksasa jahat.
Ia mendaki gunung tersebut dan bertempur melawan kedua raksasa itu. Setelah kedua raksasa itu berhasil ditewaskan, ternyata mereka adalah dua Gandharwa yang terkena kutukan Dewata dan hidup sebagai raksasa.
Oleh Gandharwa itu, Bhima diajarkan beberapa mantra, khususnya mantra-mantra yang mempunyai arti betapa besar pahalanya apabila seorang murid taat sepenuhnya kepada perintah Guru betapa sulit pun perintah itu dilaksanakan.
Kedua Gandharwa itu juga menyarankan agar mencari Tirtha yang diperlukan itu di laut, tempat Guru Rupaka dan Bhima itu bermukim.
Sebelum berangkat ke laut, Bhima sempat kembali ke istana dan bertemu dengan saudara-saudaranya. Keempat saudara-saudaranya menghalangi niat Bhima yang rupa-rupanya sudah mencium ketidakjujuran dari Guru Drona. Dalam keragu-raguannya, Bhima lalu menghadap kepada Dhritarastra yang adalah Guru Wisesa pada waktu itu.
Ternyata raja Dhritarastra pun sependapat dengan Drona, yaitu Bhima harus mendapatkan Tirtha Kamandalu itu. Oleh karena itu Bhima segera berangkat ke laut. Ia langsung masuk ke laut, tenggelam setinggi pinggang, dan berdiri di sana.
Dalam keputusasaannya ia lalu ingat mantra-mantra yang diajarkan oleh Gandharwa yang diselamatkannya. Ia memuja Naga Vasuki, memuja Dewa Bayu, memuja Indra dan akhirnya Surya dalam perwujudan Guru Druva Rsi.
Ketika Bhima terserap dalam yoga yang dalam, tiba-tiba muncul di hadapannya Dewata kerdil tetapi bersinar gilang-gemilang (di Indonesia dan juga di Bali, Dewa ini dikenal dengan nama Dewa Ruci). Dewa Ruci memerintahkan kepada Bhima agar masuk ke dalam perutnya melalui mulutnya yang ternyata kecil sekali.
Bhima ragu-ragu, tetapi akhirnya masuk juga, dan ternyata di dalam perut Dewata Kerdil itu terlihat Alam Semesta Raya yang luas dan menjulang tinggi. Bhima dibimbing naik setingkat demi setingkat, serta diberikan penjelasan-penjelasan secara mendetail.
Di Alam Dewa-Dewa, yang juga dinamakan Alam Pramana, Bhima menerima Tirtha Berkah Dewata yang disebut Tirtha Kamandalu, yang dapat memberikan kesentosaan dan kesejahteraan lahiriah, khususnya buat Bhima sendiri, kekebalan tubuh yang luar biasa.
Tirtha yang diterimanya itu dibawanya pulang dan dipersembahkan kepada Guru Drona dengan disaksikan oleh Dhritarastra. Selanjutnya, kita pun mengenal cerita kecurangan Kaurawa berkenaan dengan Tirtha yang didapatkan oleh Bhima ini.
4. PANCA TIRHTA di lereng PANCA-GIRI, kelompok Tirtha untuk menyucikan Bhuta dan Kala
Di dalam Pustaka PURVA-BHUMI, yaitu Pustaka Suci yang menjadi pegangan utama para Rsi Bhujanga, diceritakanlah penciptaan Manusia dan makhluk-makhluk Roh yang diklasifikasikan sebagai Bhuta dan Kala.
Lima Dewata putra Brahman, yaitu Sadyojata, Bamadewa, Tatpurusa, Aghora dan Isana, diperintahkan untuk menciptakan makhluk-makhluk untuk mengisi Bumi ini.
Kelima Dewata itu turun dan mewujudkan diri sebagai lima Rsi, yaitu: Rsi Korsika, Rsi Garga, Rsi Maitri, Rsi Kurusya dan Rsi Pratanjala. Dan kelima para Rsi tersebut, hanya Pratanjala yang menciptakan Manusia, sedangkan yang lain menciptakan makhluk-makhluk roh yang aneh-aneh, baik bentuk maupun tabiatnya.
Manusia yang diciptakan oleh Rsi Pratanjala itu mempunyai pula jasad roh yang mempunyai sifat-sifat komplit, dan dapat mengembangkan diri sedemikian rupa sehingga sama dengan Dewa-Dewa dan bahkan melampauinya.
Manusia dapat menyempurnakan rohnya mulai dari mengabdikan diri kepada para Dewa, kemudian bersahabat dengan mereka, untuk akhirnya bahkan memerintah Dewa-Dewa itu.
Tetapi sebelum kesempurnaan sedemikian itu bisa dicapai, para Dewa itu akan menguji keteguhan imannya, menugaskan makhluk-makhluk aneh itu mengganggunya. Roh manusia yang jatuh ke tingkat rendah, untuk beberapa waktu lamanya akan dibatasi kebebasannya oleh Dewa Yama.
Setelah batas waktu itu berakhir, roh itu mendapat pengampunan dan dibebaskan. Pada saat inilah ia harus segera dilukat, yaitu lapisan jasad paling di luar dibakar dengan api-yoga, lalu dimandikan, agar bisa bergerak ke alam yang lebih tinggi.
Apabila hal ini tidak dilakukan, roh itu akan bergabung dengan makhluk-makhluk jahat ciptaan para Rsi di atas tadi, mengganggu ketertiban setiap upacara yang dilakukan, dan berusaha merebut Tirtha Panglukatan yang bukan menjadi haknya.
Di dalam upacara-upacara, roh-roh yang suka mengganggu itu ditangani oleh Rsi-Bhujangga, dengan memperingatkan kepada mereka rahasia penciptaan, dan selanjutnya dibantu untuk mendapatkan Tirtha yang menurut Pustaka Purva Bhumi terdapat di lima Gunung (Panca Giri), yaitu:
  1. Tirtha Sveta Kamandalu di Gunung Indrakila, dijaga oleh Indra dan Sanghyang Iswara (Sadyojata).
  2. Tirtha Ganga Hutasena di Gunung Gandharnadana, dijaga oleh Bamadewa.
  3. Tirtha Ganga Suddha-mala di Gunung Pgat (Udaya), dijaga oleh Tatpurusa.
  4. Tirtha Ganga Amrta-Sanjivani di Gunung Rayarnukha, dijaga oleh Aghora.
  5. Tirtha Ganga Amrta-jiva di Gunung Kailasa dijaga bersama, Ardhanareswari.
Setelah menerima Tirtha-Tirtha itu, lapisan paling luar jasad roh itu disucikan, dengan demikian mereka mampu berangkat ke alam yang lebih tinggi, atau kembali ke Alam masing-masing menghadap Maharaja Penguasanya.
Secara khusus Upacara Penyucian ini dilakukan pada hari raya Nyepi, dan juga dilakukan menjelang dilakukan upacara-upacara penting lainnya.
Besar kecil upacara ini diatur menurut kepentingan, namun prinsipnya tetap sama. Roh-roh yang sudah disucikan itu tidak akan mengganggu lagi, bahkan akan membantu kelancaran jalannya upacara-upacara selanjutnya.

YUDISTIRA DAN DRUPADI

Yudistira dan DrupadiLuh Made Sutarmi
Buah yang kita tanam di lembah keputusasaan adalah makanan yang kita makan di puncak gunung. Kata orang bijak, putus asa dan kekacauan pikiran selalu datang menghiasi kita, lalu apakah ini menarik untuk kita kenang. Itulah kehidupan, dia harus ditatap seperti air yang mengalir, dalam dimensi ruang dan waktu yang masih tersisa saat ini, banyak kegagalan dan harapan tidak tercapai, namun orang langsung putus asa. Putus asa juga pernah mampir di hati Yudistira. Sebagai manusia kondisi itu alamiah, namun Yudistira saat ini merenung dan karena hatinya galau, saat Bima mendapat giliran untuk tidur dengan Drupadi. Drupadi, istri dari kelima bersudara itu sering menghadirkan rasa cemburu di antara mereka, walaupun itu tidak diungkap secara nyata. Sebagai manusia, perasaan itu pasti muncul namun pengendalian emosi adalah cerita yang selalu hadir ketika kita menyimak kehidupan Panca Pandawa.
Drupadi menjalani kehidupan poliandri. Seorang istri memiliki lebih dari satu suami. Kondisi ini bukan tanpa alasan, yakni sebagai wujud kesetiaan Panca Pandawa pada janji untuk setia pada kata-kata Ibu mereka. “Apa pun yang engkau dapatkan harus engkau bagi sama rata dengan saudara-saudaramu.” cerita kemudian menjadi tambah pelik, saat yang didapat adalah seorang gadis. Konsekwensinya adalah itu pun harus dibagi sama, karena dalam hati Pandawa hanya bersuara “hormati ibu sebagai Tuhan, Mitru dewa bawa”. Namun, kondisi Drupadi sering diknitik oleh para pemikir saat mi, bahwa poliandri Drupadi keliru. Namun, sebagai masyarakat manusia haruslah arif bahwa poliandri memang pernah ada dalam sistem komunitas manusia, dan sisa-sisa itu masih ada di Amerika Utara sampai saat ini, seperti suku Mamot.
Drupadi wanita cantik, dan membuat banyak laki-laki mengidolakannya. Hasrat laki-laki Yudistira pun memuncak, ketika untuk pertama kalinya Bima mendapat giliran meniduri Drupadi. Ada semacam perasaan lain muncul dalam hatinya, dia cemburu, dan juga marah, namun semua sifat itu mampu dikendalikan sebagai bentuk penghormatan kepada janji yang telah diikrarkan. Hidup adalah permainan oleh karena itu nikmatilah sebagai bentuk permainan, hidup itu memang indah, namun sering menjebak emosi manusia yang mengikuti indria.
Yudistira merenung dan jantungnya berdetak. Oh malam ini jiwa ini ragu, membayangkan engkau Drupadi diantar oleh Bima ke kamarnya, engkau dituntun ke pura, aku bayangkan bahwa engkau rajin membuat banten, dan tidur dengan suamimu yang baru, yang mulai engkau cintai karena kekuatannya. Lalu, Yudistira berpikir dalam hati, “Apakah aku harus datang untuk merebutmu, walaupun aku punya hati dan cinta, masihkah aku tega melihat kamu menderita harus berpisah dengan orang yang bertanggung jawab atas semua kekuranganmu.?”
Kalau itu terjadi, Kami akan dihina sebagai bangsa ksatria, mereka pasti meneteskan air mata duka, air mata penyesalan, betapa egoisnya aku. Betapa aku egois, betapa Aku tidak tahu malu. Ibu yang lebih dahulu membukakan jalan kemudian ibu yang menutup episode yang tidak baik ini. Ibu juga yang mengangkatmu agar suci, agar tidak jatuh ke dasar jurang, lalu kenapa orang tua seperti itu harus kita marahi, kita kutuk, betapa mulia hatinya sebenarnya. Ayahmu juga begitu, dia ingin melepaskan episode yang sangat menjengkelkan ini. Lalu apa yang harus engkau lakukan sekarang? Menjadi bijaksana semacam Bhagawan Biasa, yang tenang dan damai. Bantulah dia sepenuhnya, apa yang kamu bisa berikan, berikanlah padanyá. Demikianlah hati Yudistira berkecamuk. Jalankanlah niatmu itu, agar dia bahagia, lentik bulu matanya, memelas untuk menjadikan engkau pujaannya, rasa iba membuat engkau bijak. Inilah saatnya engkau menjadi manusia super, manusia yang penuh dengan kebijaksanaan.
Yudistira, terkesiap, ingat kata-kata ibu Kunti, “Saat sekarang betapa engkau ingin bahagia, ingin bisa menerima semuanya, dengan kata-kata yang indah. Engkau pernah berucap, puaslah dengan apa yang kita miliki sekarang biarlah hidup itu mengalir. Mengalir apa pun yang terjadi itu bukan kehendak kita. Setelah ingat itu dia berucap dalam hati. Semoga engkau bahagia, bahagia, semoga bahagia, aku hadapi dengan dada yang dingin kondisi ini, dengan pikiran yang suci dan pikiran apa adanya. Kini walaupun engkau bergelut dengan Bima, aku memandang itu wajar.
Angin utara berdesir sejuk, lalu melampiaskan banyak pasir yang menganga dalam hati, dia menyirami hati yang duka, kini berangsur-angsur sembuh, terima kasih guru, aku sudah bisa tenang. Ketenangan ini semoga bisa bertahan lama. Kata Yudistira dalam lamunannya. Hati yang luka sudah mulai mengering, tak ada yang menjadi beban. Hotel Indra Pura sudah berdebu, pantai sanur sudah remuk, dan Pura Ponjok Batu sudah bersih. Aku mulai menatapnya dengan indah.
Aku menatap wajah ibu Kunti yang semakin bersemi, semakin berkesan dialah pujaan hatiku, ketika aim ditinggalkan oleh kedukaan atas kematian ayah. Hanya dia yang bisa menghibur hatiku, ketika aku digusur dari Astina hanya dia yang menjadi tumpuan hatiku, aku berlabuh di pantai idamannya, aku bangga punya keluarga inilah kekayaanku terbesar. Ketika Drupadi ikut dalam keluargaku, dia juga yang menjadi mutiara kehidupanku, karena kecemburuanku bukan kekayaanku, dia adalah semacam kerikil dalam perjalanan kehidupanku, Maafkanlah Tuhan, aku telah terselip dan kini aku kembali ke jalan yang engkau kehendaki. Aku sadar-sadar, dan sadar. Terima kasih Tuhan. Om Gam Ganapatayenamaha. Raditya – 136 November 2008.

Pis Bolong Padma/Teratai

Pis Bolong Padma/Teratai


Padma/Teratai adalah lambang tempat singasana ida sang hyang widhi wasa sebagai pencipta, selain itu 8 kelopak dan 1 titik di tengah padma tersebut melambangkan ke 9 dewa-dewa yg beristana di masing-masing arah penjuru angin yg lebih di kenal dgn dewata nawasanga.pis bolong padma ini dipercaya memiliki fungsi sepiritual utk kedamaian,penangkal ilmu hitam,dan sebagai sarana pemusatan pikiran dlm melakukan yoga semadhi.

Pis Bolong Gajah

Pis Bolong Gajah


Pis Bolong Gajah
Dalam mitologi Hindu, Airawata (Sansekerta: ऐरावत; Airāvata) adalah nama seekor gajah putih, wahana Dewa Indra. Airawata merupakan putera dari Irawati, salah satu puteri Daksa. Dalam mitologi Hindu sering digambarkan bahwa Airawata ditunggangi oleh Indra yang membawa senjata Bajra, sambil membasmi makhluk jahat. Menurut mitologi Hindu, Airawata merupakan salah satu gajah penjaga alam semesta. Ia dianggap sebagai pemimpin para gajah.
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

INFO PENTING

Kami sampaikan kepada semua pengunjung TNBA Blog, bahwa Kami disini bukanlah Pencipta Artikel ataupun Uploder, kami hanyalah Finder Artikel dan Juga Link - link terkait yang kami Posting. Admin adalah BLOGER Baru yang berasal dari PULAU DEWATA dengan Tujuan mulia untuk membantu Masyarakat untuk menemukan Artikel-artikel yang diinginkan dengan Mudah tanpa mengambil keuntungan dari semua Postingannya.

Salah satu Sumber kami :
1. www.parisada.org
2. singaraja.wordpress.com
3. piswayang.blogspot.com
4. www.stitidharma.org

Trima kasih atas perhatiannya

Admin

Bisnis Online

BALI

=====BALI=====

Bali adalah Pulau yang sering disebut dengan Pulau Seribu Pura, ini semua karena memang di Pulau ini memiliki banyak sekali Bangunan Pura Yang Megah di Setiap Lokasi di Setiap Desanya. Hal ini tidak terlepas dari Mayoritas penduduknya menganut Agama Hindu,,Hhhhmmmmmm kalau saya Bahas Bali disini akan sangat panjang, Kalau Agan2 Mau tau Bali seperti apa,,.??? Baca Postingan dari "TIANG NAK BALI AGA", temukan Informasi tentang Bali disini.

Suksma

Kategori

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Kunjungan

Followers

 

Visitors

free counters

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger