Kamis, 06 September 2012

Kumpulan Kekhawatiran Bali di Masa Depan

Kotak Pandora. Istilah itulah yang digunakan oleh Nyoman Sukma Arida untuk menggambarkan kondisi Bali di dekade pertama abad 21. Kotak Pandora, kotak yang begitu dibuka akan melepaskan begitu banyak malapetaka di dunia: masa tua, rasa sakit, kegilaan, keserakahan, dan lain-lainnya.
Sukma memang menggambarkan berbagai “malapetaka” gumi Bali dalam buku ini. Mulai dari mahalnya biaya untuk upacara agama, ludesnya tanah-tanah Bali dilahap investor, menjamurnya mal di sudut-sudut kota, hingga kerusuhan berkedok kasus adat. Masing-masing dikemas dalam bentuk esai. Total ada 25 esai yang dirangkum dalam buku setebal 133 halaman ini.
Pembahasannya komprehensif, tidak ada yang lepas dari pengamatan penulis. Kalimat-kalimatnya mengalir jernih. Maklum, penulisnya selain akademisi, dosen di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali juga pernah menjadi wartawan majalah budaya Sarad (majalahnya sekarang sudah almarhum) pada tahun 2002-2005.
Latar belakang penulis sebagai akademisi dan pernah menjadi wartawan membuat esai-esai di buku ini bisa ditulis secara sederhana tapi menarik, bebas jargon akademis. Kelebihan lainnya, sebagian esai dilengkapi dengan data dan analisis menarik, misalnya biaya dan waktu yang dihabiskan untuk kewajiban adat.
Rata-rata esai ditulis dengan menampilkan tokoh-tokoh orang-orang biasa, yang mengalami masalah yang juga dihadapi oleh orang Bali pada umumnya. Ada I Lugra yang kesulitan waktu dan uang karena punya kewajiban ngayah di 13 pura. Ada I Gede, yang harus menjual tanah untuk menyelesaikan bangunan bale dan sanggah karena mengikuti saran seorang balian. Ada pula ilustrasi keluarga Bali modern yang setiap minggu jalan-jalan ke mall mengikuti keinginan anak-anaknya.
Tak luput diceritakan pengalaman pribadi penulis yang mengalami kesulitan mengatur waktu untuk menulis karena disela kewajiban-kewajiban adat. Hal-hal seperti ini yang jarang muncul di permukaan, tenggelam oleh riuh-rendah pariwisata, kampanye pemilu, dan pilkada.
Buku Pandora Bali ini masuk dalam genre buku observasi tentang Bali yang ditulis oleh orang Bali sendiri. Genre ini dipelopori oleh Putu Setia dengan buku “Menggugat Bali” di tahun 1986, dan kemudian dilanjutkan Aryantha Soetama yang produktif dengan buku-buku kumpulan tulisannya, antara lain “Jangan Mati di Bali”, “Bali Tikam Bali”, dan “Basa Basi Bali”.
Jika Anda menggemari gaya penulisan Putu Setia dan Aryantha Soetama, Pandora Bali merupakan sequel yang layak serta enak dibaca.
Tapi, jika anda mengharapkan pembahasan lebih mendalam dari isu-isu adat dan agama di Bali, mungkin masih harus menunggu karya berikutnya dari penulis buku ini. Esai-esai Pandora Bali hanya membahas kulit-kulit dari permasalahan-permasalahan Bali. Tidak ada pembahasan rinci mengenai konflik adat. Tidak ada penjelasan memadai tentang mengapa I Lugra sampai harus menanggung kewajiban ngayah di 13 pura, dan mengapa ia sampai tunduk membabi buta kepada pengurus desanya.
Kurang mendalamnya pembahasan ini menambah kekurangan lain buku ini: proses penyuntingan yang kurang baik (daftar isi dan nomor halaman yang tidak tepat, halaman yang tidak tercetak, salah eja istilah asing “funitive reason” dan “silence majority”).
Setelah membaca buku ini, kita tidak merasa telah belajar sesuatu yang baru. Mungkin tujuan penulis buku ini memang bukan memberikan pembahasan yang mendalam. Tidak ada hal yang benar-benar baru yang dibahas oleh buku ini. Sebagian besar ditulis sebelum tahun 2005 (tidak ada keterangan tanggal dan tahun penulisan dari setiap esai, hingga menyulitkan untuk memahami konteks penulisan esai).
Tapi sudah saatnya isu-isu adat, yang telah sering dilempar oleh penulis-penulis senior seperti Putu Setia dan Aryantha Soetama, dikupas oleh penulis dan akademisi muda dengan pembahasan lebih menarik dan mendalam, hingga ditemukan akar permasalahan dan solusinya.
Beberapa solusi menarik untuk mengatasi masalah beban adat sempat disinggung oleh penulis, antara lain menghilangkan sistem pesuan-pesuan (semacam iuran wajib) dan diganti dengan iuran sukarela di Desa Pakraman Penatih (hal. 24). Atau inisiatif di Desa Pakraman Kerambitan yang menata kembali sistem upacara yadnya menjadi lebih sederhana (hal. 25).
Pembahasan yang lebih terperinci mengenai reformasi di desa pakraman ini akan sangat menarik untuk menjadi topik pembahasan berikutnya. [b]
Judul        : Pandora Bali, Refleksi di Balik Gemerlap Turisme
Penulis        : Nyoman Sukma Arida
Penerbit    : Pustaka Larasan (www.pustaka-larasan.com)
Tebal        : 166 halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2012

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atas Kunjungannya, Kami berharap Saudara meninggalkan sedikit kata Untuk Kemajuan Blog ini. Ini semua Untuk Bali, mari bersama Menjaga dan melestarikan Bali yang senantiasa indah dan Damai.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

INFO PENTING

Kami sampaikan kepada semua pengunjung TNBA Blog, bahwa Kami disini bukanlah Pencipta Artikel ataupun Uploder, kami hanyalah Finder Artikel dan Juga Link - link terkait yang kami Posting. Admin adalah BLOGER Baru yang berasal dari PULAU DEWATA dengan Tujuan mulia untuk membantu Masyarakat untuk menemukan Artikel-artikel yang diinginkan dengan Mudah tanpa mengambil keuntungan dari semua Postingannya.

Salah satu Sumber kami :
1. www.parisada.org
2. singaraja.wordpress.com
3. piswayang.blogspot.com
4. www.stitidharma.org

Trima kasih atas perhatiannya

Admin

Bisnis Online

BALI

=====BALI=====

Bali adalah Pulau yang sering disebut dengan Pulau Seribu Pura, ini semua karena memang di Pulau ini memiliki banyak sekali Bangunan Pura Yang Megah di Setiap Lokasi di Setiap Desanya. Hal ini tidak terlepas dari Mayoritas penduduknya menganut Agama Hindu,,Hhhhmmmmmm kalau saya Bahas Bali disini akan sangat panjang, Kalau Agan2 Mau tau Bali seperti apa,,.??? Baca Postingan dari "TIANG NAK BALI AGA", temukan Informasi tentang Bali disini.

Suksma

Kategori

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Translate Here

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Kunjungan

Followers

 

Visitors

free counters

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger